Burung Cucak Rowo

Bakalan Cucak Rowo


Untuk memilih bakalan cucakrawa yang baik diperlukan beberapa kriteria :
1.   Bentuk kepala agak bulat dan besar,dahi menonjol
2.   Paruh panjang,tebal dan kuat
3.   Lubang hidung tidak lebar.terlihat kecil karena tertutup bulu hidung,
4.   Leher panjang dan pangkal leher agak mengembung
5.   Dada bidang dan punggung agak bongkok
6.   Bulu ekor panjang dan mengumpul,makin ke ujung makin runcing dan mengecil
7.   Bulu sayap panjang,bulu dada lembut dan tampak mengkilat
8.   Tulang paha kiri dan kanan agak merapat
9.   Jari kaki kuat dan panjang,cengkraman nya sempurna
10. Badan berukuran besar dan panjang

Perbedaan Cucakrawa Jantan dan Betina
JANTAN
BETINA
Bentuk kepala bulat,bagian dahi agak menonjol,dan setelah dewasa ada belahan bulu di kepalanya. Bentuk kepala agak pipih,dan setelah dewasa tidak terdapat belahan bulu pada kepalanya.
Bulu ekornya tampak panjang Bulu ekornya tampak agak pendek
Bulu leher depan di bawah dagu berwarna putih bersih Bulu leher depan dibawah dagu berwarna butih ke abu-abuan
Bulu punggung dan sayap berwarna coklat ke abu-abuan dengan garis garis panjang berwarna putih Bulu punggung dan sayap berwarna coklat ke kuning kuningan dengan garis garis pendek berwarna putih
Bunyi kicauan nya sangat keras dan nyaring Bunyi kicauan nya tidak begitu keras dan cukup nyaring
Penampilannya sangat lincah dan energik Penampilannya agak lamban
Supit udang ekornya rapat dan keras Supit udang ekornya renggang dan agak lemas
Sosok tubuh nya besar Sosok tubuh nya agak lebih kecil
   
Penangkaran Cucak Rowo

Saat ini beberapa klub burung kicauan di Indonesia mulai merasakan susahnya mencari  bakalan cucakrawa yang mempunyai suara berkualitas. Padahal dengan melakukan penangkaran, kesulitan itu akan teratasi. Selain itu cucakrawa juga lebih mudah untuk dibentuk suaranya sesuai keinginan pemiliknya. Berdasarkan survei Burung Indonesia dan The Nielsen, sebanyak 58,5% dari jumlah burung kicauan adalah tangkapan alam. Dan setiap tahun jumlah tersebut akan terus meningkat. Tak pelak lama kelamaan burung yang ada di alam ini bakal terancam keberadaannya.

Pada akhirnya, hobi memelihara burung kicauan ini pun tidak bertahan lama. Pastinya, hal ini tidak diinginkan para penggemar burung kicauan yang memelihara untuk sekadar hobi ataupun disertakan dalam lomba.

Tidak Banyak Penangkar

Salah satu cara agar hobi ini tetap bisa berlanjut, maka penangkaran harus dilakukan, tak terkecuali burung cucakrawa (Pynonotus zeylanicus atau straw-headed bulbul). “Dengan penangkaran, cucakrawa yang ada di alam tidak akan terkuras habis,”
Cucakrawa tergolong burung yang keberadaannya di alam tinggal sedikit. Memang tidak banyak yang mau melakukan penangkaran burung-burung untuk lomba karena ada anggapan menangkarkan cucakrawa sulit dan merepotkan. Memang awalnya sulit, tapi kalau kita selalu belajar, kendala itu akan bisa kita hadapi.

Dengan melakukan penangkaran tidak saja memberikan dampak pada penambahan stok cucakrawa juga memberikan nilai ekonomis.Penangkaran cucakrawa ini sangat menjanjikan untuk menjadi lahan bisnis.Disamping itu para penangkar akan memberi peluang usaha kepada pencari jangkrik, penjual pakan, dan penjual sangkarnya.

Memberi Nilai Ekonomis

Sulitnya hobiis mencari cucakrawa di pasaran menjadi peluang bisnis bagi penyedia cucakrawa bakalan. Burung bakalan lebih banyak dipilih hobiis karena lebih mudah dibentuk suaranya. “Keuntungan lain adalah burung lebih akrab dengan manusia atau tidak liar.

Cucakrawa hasil penangkaran akan menghasilkan suara kicauan yang lebih indah. Burung juga lebih mudah dilatih sehingga suaranya bisa disesuaikan dengan keinginan pemiliknya. Bahkan saat disertakan lomba,burung hasil penangkaran tidak gampang stres menghadapi lingkungan yang baru.

 
Sebagai perbandingan, harga burung  yang pada tahun 1978 cuma Rp 25.000/pasang, kini melambung tinggi sampai beberapa juta rupiah. Melalui teknik pembiakan yang bagus, setiap induk bisa menghasilkan sepasang piyik setiap bulannya.
Sebuah bisnis yang menjanjikan bukan ??